Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 24 April 2019

RENUNGAN: 2019,04,08, BERCERMIN DARI PANGGILAN MUSA (Menjawab Panggilan Allah Dalam Hidupku)



BERCERMIN DARI PANGGILAN MUSA
(Menjawab Panggilan Allah Dalam Hidupku)

Menjawab panggilan Allah akan suatu cara hidup yang khusus, yang kita anggab adalah cara hidup yang dibaktikan untuk karya Allah menjadi suatu cara menjawab di mana kita yang mengalami panggilan tersebut mencoba menjawab suatu yang tidak kita mengerti dan tahu bagaimana tujuan akhirnya, namun kita tetap mencoba dan terlebih mengerti apa yang menjadi kehendak Allah atas diri kita dan atas tujuan karya Allah tersebut dalam “kemisteriannya”. Demikianlah Musa yang dipanggil Allah untuk memulai karya Allah. Hidup Musa sedari awal dipersiapkan dengan cerita ia diangkat oleh puteri Mesir namun tetap disusui oleh inangnya. Sampai pada ia membunuh tentara Mesir dalam statusnya sebagai orang Mesir demi membela orang Israel yang dianiaya. Ia lari dan menjadi buronan. Ia menikah dan menjadi penjaga ternak. Dan sejak dari inilah ia dimulai dipanggil dalam peristiwa semak duri yang bernyala namun tidak terbakar. Musa dipanggil Allah.
Musa tidak langsung menyetujui panggilan Allah tersebut. Ia ragu, bertanya dan mencoba mengelak akan apa yang Allah rencanakan. Dari ini saya berangkat tentang panggilan yang saya jalani saat ini menjadi seorang rahib. Pengalaman Musa coba saya refleksikan dengan panggilan yang saya coba jawab.
 Bermula sewaktu SD kelas 3, saya dalam kesadaran dan keyakinan bersujud dan memegang altar gereja seraya memandang salib menjanjikan dalam hati akan menjadikan diriku persembahan kepada Allah dan tidak akan menikah seumur hidupku. Inilah awal di mana saya masuk kepada panggilan tersebut. Semuanya dimulai dan terjadi secara mengalir.
Bapak dahulu adalah seorang mantan seminaris. Hal ini menjadi hal pendukung untuk saya. Di rumah, tepatnya di kamar tidur, di sudut tempat belajar ada tempat doa yang dihiasi gambar dan patung rohani. Di sana saya menjalani hidup kerohanian saya. Di sana juga saya mulai belajar berdiam diri. Saat itu saya belum mengerti yang namanya meditasi. Namun saya mencoba duduk tenang berdiam diri dalam waktu yang lama di bangku tempat doa tersebut. Orang tua sudah mengerti jika saya lama keluar dari kamar dan pintu terkunci, mereka tahu saya sedang berdoa. Saat jalan kaki pergi sekolah dan les saya melakukan doa Rosario atau mengulang-ulang doa Bapa Kami dan Salam Maria. Hal itu menjadi hal yang menarik dan terus saya lakukan. Saya juga aktif mengikuti kegiatan Asmika dan Areka. Dan saya juga aktif menjadi Mesdinar di gereja. Saya sunggu merasa ada hal yang menarik dan memperdaya diri saya ketika saya ikut aktif dalam segala kegiatan gereja.
Pengalaman rohani yang telah dimulai berlanjut ketika di Seminari Menengah. Hidup doa diam-diam saya jalani. Setiap hari saya meletakkan sekuntum mawar di kaki patung Maria, doa silih dan kerahiman diruang sayap yang tertutup oleh gorden, juga laku tapa dengan tidur di kerikil dan meditasi saat pagi-pagi buta. Hal yang mirip juga terlaksana saat saya menjadi Postulan dan Novis Kapusin. Hidup doa, meditasi, kontemplasi, silih, dan ulatapa, serta sering tinggal dalam kesendirian dan menyepi menjadi kehidupan yang teraman sangat saya cintai. Banyak pengalaman rohani dan mistik serta supranatural yang pernah saya alami. Semuanya itu menjadi pengalaman-pengalaman yang meneguhkan dan memurnikan terus panggilan dan cara hidup saya.
Tepatnya tanggal 21 Januari 2009 saya memulai cara hidup eremit. Dengan tinggal di sebuah gua di perbukitan Simarbalatuk, tepatnya di desa Buntumalasang kecamatan Parapat Girsang Simpangan Bolon. Saya dianggap “gila”, “aneh”, “stres” dan banyak lagi asumsi-asumsi negatif yang muncul. Hal itu bukan hal yang baru bagi saya, karena sejak dari seminari asumsi-asumsi seperti ini sudah ada. Sampai saya dikatakan kerasukan roh aneh dan seorang dukun yang punya kekuatan magis. Semua itu memang karena apa yang saya pilih dan jalani.
Sering dalam doa saya meragukan apakah ini benar panggilan dan karunia dari Allah. Dan tak jarang dalam doa saya meminta kepada Allah untuk membersihkan, mengambil dan membuat saya menjadi orang biasa saja tanpa ada karunia apapun dan kelebihan-kelebihan di dalam diri. Keraguan dan pertanyaan tentang apakah ini memang karya Allah dan bukan kehendak diri saya. Dalam keraguan dan kegundahan tersebut sering sekali kehampaan dan kekosongan yang sangat panjang hadir dalam perjalanan panggilan ini.
Namun dalam pergulatan batin ini sangat banyak karya Allah yang saya alami baik secara iman, pengalaman batin, pengalaman mistik dan kerja Allah langsung. Saat membeli lahan pertapaan, membangun pondok dan kapel pertapaan yang terakhir ini, tak jarang Allah menunjukan kerja-Nya yang nyata. Dalam keterbatasan dan kekosongan saya Allah menyelenggarakan dan menyelesaikannya. Pembangunan kapel pertapaan bermula dari mohon doa melalui santo Yosef  suami Maria dalam rasa nekad karena situasi saat itu uang ditangan saya tidak lebih dari 3 (tiga) juta rupiah untuk memulai membangun kapel tersebut, namun keesokan harinya ada yang menelepon saya dan mengirimkan bantuan sebesar 10 (sepuluh) juta rupiah. Dan banyak hal-hal lain seperti peristiwa itu. Juga berkaitan pembayaran gaji dan pembelian bahan bangunan. Tak jarang bantuan datang dalam ketakterdugaan.
Walaupun banyak hal karya ALlh yang saya alami, kadang dalam keadaan dana yang menipis saya gundah dan berseru dalam doa, “Tuhan mau bagaimana saya buat”. Dalam keterbatasan inilah saya mulai ragu akan apa yang telah dikerjakan. Namun dalam keterbatasan ini pula Allah sering bertindak tak terduga. Dan karyaNya nyata dan dapat terlihat. Saya sangat yakin Allah berkarya dalam pengadaan pertapaan dan pembanguna ini.
Namun dalam kemanusian saya yang manusiawi ini tetap saja keraguan dan takut itu ada. Dari pihak keuskupan meminta saya untuk membekali diri saya dengan kuliah di STFT. Tak ada pemikiran dan angan-angan untuk kuliah atau menjadi imam sedari saya menjalani panggilan sebagai eremit ini. Namun dalan ketaatan saya harus berjalan. Kembali keraguan dan ketakutan hadir, karena saya harus mengusahakan biaya semuanya secara sendiri. Di awal saya yakin dan penuh semangat melangkah untuk memulai. Namun selanjutnya muncul banyak masalah yang harus saya hadapi. Tetap semuanya berhadapan dengan keterbatasan keuangan, membagi waktu untuk dua tempat tinggal dan ketakutan akan kemana panggilan ini melangkah. Keraguan dan kedongkolan hati saya meragukan dan mempertanyakan apakah semua ini bisa dijalani? Kembali satu-persatu Allah tunjukan caranya berkarya. Banyak orang yang membantu dan mendukung. Saya melihat ini adalah cara Allah berkarya.
Semua pengalaman ini sebenarnya menunjukan karya nyata Allah. Namun kemanusiawian diri saya ternyata sangat kuat. Akhir-akhir ini muncul pertanyaan dan keraguan saya akan apa yang saya jalani. Muncul dalam pikiran saya untuk berhenti dari perkuliahan. Dengan alasan, satu saat saya tetap kembali ke pertapaan apapun  akhirnya.  Panggilan awal untuk tinggal bertapa menjadi alasan utama saya. Namun pemikiran-pemikiran dan pertanyaan yang menghadirkan kegundahan batin saya hadir mengusik. Dan dalam situasi ini dilema harus saya terima. Saya harus jalani kuliah dalam ketaatan, namun batin saya mulai merasa berdosa karena terlalu larut dan disibukkan oleh tugas-tugas dan study. Gema panggilan awal untuk hidup sebagai eremit sangat mengusik batin saya. Saat-saat seperti ini menjadi saat paling kering dan kosong. Muncul keraguan dan kegundahan, “Allah apa yang Kau mau dariku, mau kemana semua ini tertuju.”
Panggilan berhadapan dengan yang Ilahi sungguh sangat misteri. Dalam ketidaktahuan dan kepasrahan dituntut kepercayaan penuh pada Allah. Namun kemanusiawian diri ini mejadi rapuh dan lemah ketika berhadapan dalam kenyataan dan keterdesakan diri akan realitas yang harus dihadapi. Saat-saat itulah keraguan dan pertanyaan yang menyesakkan batin akan “penyelenggaraan Allah dimana?” Kekosongan dan kehampaan meliputi kemanusiawian diri ini. Allah terasa jauh.
Berefleksi dari panggilan Musa oleh Allah, sungguh suatu yang sangat menarik. Ia dipersiapkan untuk rencana Allah. Namun dalam kesadaran kelemahan dirinya dan keraguan akan apa yang terjadi di depan menjadi alasan mencoba untuk menolak dan bahkan menghindari panggilan Allah tersebut. Namun Allah tetap berkarya dan tetap memberkati serta menyelenggarakan karya-Nya dalam cara-Nya yang sungguh sangat misteri.
Demikianlah saya mencoba berefleksi akan kelemahan dan keraguan dari kemanusiaan saya akan pertanyaan, “apakah ini karya Allah?”, “mau kemana panggilan ini tertuju?” Dalam kesesakan batin dan perasaan hampa, hal yang sulit adalah ketika di dalam doa muncul pertanyaan “dimanakah Engkau Allahku?” Pada saat seperti ini rasa ragu menjadi rasa bersalah dan berdosa. Dalam kisah Musa, saya melihat diri saya seperti orang Israel yang terus bersungut-sungut kepada Allah dan sering ragu pada Allah. Saya tersadar akan sikap Musa yang mencoba untuk mencari cara dan alasan untuk mengelak dari panggilan Allah. Demikianlah pengalaman yang bisa saya sampaikan akan belajar dari panggilan Musa dalam panggilan hidup saya.

Senin, 10 Desember 2018

RENUNGAN: 2014, DALAM SELUBUNG RAHASIA



Dalam selubung rahasia......
            Dua waktu dimana kita bersehadap dengan Allah menjadi momen yang penuh rahasia. Tidak ada yang dapat menguraikan penjelasan yang secara mendalam dan benar akan proses kehidupan terjadi dalam janin, saya pun tidak. Demikianpun demikian namun saat kita mengenal diri kita seadanya teramat teerpesona akan diri kita yang memiliki nilai luhur dan mulia sebagai ciptaan walaupun itu berkurang karena keegoisan Adam dan Hawa yang melanggar dengan kehendak bebasnya memakan buah pengetahuan yang baik dan yang jahat itu.
            Bersehadap dalam hal ini adalah berada di hadapan Karya Ilahi Allah yakni awal kehidupan dan Awal Kehidupan Ilahi di hadapan-Nya selamanya.
            Tepatlah dikatakan “Mati” meerupakan gerbang. Adam dan Hawa dikatakan “mati” ketika memakan buah pengetahuan yang baik dan yang jahat. Namun bukan mati secara badaniah namun mati secara Keilahiannya. Bahwa Insensi Ilahi dari Hidup yang berasal dari Allah diambil dari padanya maka Adam dan Hawa mati dalam keilahian mereka sebagai ciptaan Agung dan Ilahi. Sedangkan manusia sekarang “mati” berarti ia meninggalkan badan yang fana ini dan Hidup yang ada dan tinggal selama hidup di dunia kembali kepada intensi keIlahian semula. Demikianlah unsur keIlahian kembali kepada asalnya yakni Ilahi. Yang mana selama ini telah tinggal dan dibungkus dalam kefanaan.
            Dalam rahim manusia bersehadap dengan Allah karena di dalam rahimlah terjadi gerak karya penciptaan. Dalam waktu yang lama, benih kemanusiaan dibentuk dan berproses kembang namun Hidup itu telah hadir dari awal. Benih yang diberikan Adam adalah wakil dari bagian tubuh-Nya. “ Lalu Tuhan Allah membuat manusia itu tidur nyenyak; ketika ia tidur, Tuhan Allah mengambil salah satu rusuk dari padanya, lalu menutup tempat itu dengan daging. Dan dari rusuk yang diambil Tuhan Allah dari manusia itu dibangun-Nyalah saorang perempuan, lalu dibawanya kepada manusia itu.” Dan Hawa mengandung manusia pertama yang lahir dari rahim bukan diciptakan. Saat di dalam rahim dalam waktu yang lama benih Hidup yang hadir karena kesatuan dari dua Hidup disatukan antara sperma dan sel telur yang sama-sama membawa daya Hidup awali dipersatukan. Bukan diambil dari bagian tubuh dan ditutup/dibungkus dengan daging dan diciptalah manusia. Demikian Hawa dicipta namun manusia baru ini dilahirkan yakni hidup karena proses pembentukan di dalam rahim. Kala sperma dan sel telur bertemu dan menyatu. Dua daya hidup dan saling bersatu dan menjadi satu kesatuan penuh dan utuh tak terpecahkan dan tak terpisahkan melainkan bertumbuh besar dan semakin besar sampai membentuk diri seorang manusia yang secitra/segambar dengan sumber awalinya yakni Adam dan Hawa. Saat yang cukup panjang dan ala mini manusia dalam bentuk janin bertumbuh dan berproses. Hidup menjadikan janin mengalami proses yang panjang. Saat proses yang panjang itulah manusia yang masih dalam rupa janin berada di hadapan Allah karena Allah masih berkarya dan berproses mencipta dengan cara yang berbeda dari awalnya seperti kepada Adam dan Hawa.
            Demikianlah betapa kita menyadari arti kehadiran diri kita di hadapan Allah di  dalam janin yang bertumbuh dan berproses. Diri kita dan Allah saling bersehadap. Coba perhatikan bentuk dan posisi dari sebuah janin di dalam rahim ibunya. Iya layaknya menyembah dan menundukkan kepala. Tangan yang sejajar dan kaki yang tertekuk dengan kepala seperti menunduk. Dalam hal ini mungkin hanya sederhana dan sepintas lalu saja namun penuh makna di mana dalam kekecilan kesederhanaan serta kerendahan kita, kita berada di hadapan Allah. Kemanusiaan kita di dalam rahim mau mengatakan kepada kita bahwa kita kecil dan tak berdaya di hadapan Allah Sang Pencipta.
            Karya penciptaan masih terjadi dan terus terjadi dari awal sampai akhir zaman. Proses kehidupan dalam penyelenggaraan karya penciptaan terus terjadi. Demikianlah Allah sangat misteri itu sangat sulit untuk dipahami dan diketahui demikianpun proses penciptaan ini benar-benar sangat sulit untuk dipahami. Dua sel saling bertemu dan kemudian berproses secara pelan membentuk seluruh bagian dalam tubuh manusia, menbentuk tulang-tulang dan darah secara bersamaan seraya terbentuk daging sebagai pembungkus yang mana daging terbentuk pelan-pelan dalam proses membentuk tubuh bagian luar, tangn, kaki, kuping, hidung, bibir, kepala, mata dan semua dibentuk dalam proses yang benar-benar sangat misteri sekali. Demikianlah manusia diciptakan dan kemudian manusia dilahirkan.
            Saat proses penciptaan dalam rahim, kita harus menyadari bahwa Allah masih berkarya dengan cara yang berbeda namun tetap terjadi hingga saat ini. Dan saat-saat proses penciptaan tersebut dari awal sampai akhir proses penciptaan itu yang mana janin masih berada di dalam rahim ibunya, manusia berada di hadapan penciptanya yakni Allah. Sungguh suatu yang sangat agung dan penuh makna dalam selubung rahasia yakni terjadi sebuah penciptaan. Betapa terberkatilah semua rahim di dunia yang dalamnya terjadi pengulangan proses penciptaan, yang dalamnya terjadi kehadiran gerak Hidup yang hanya karena penyatuan dua sel yang saling terkait dan menyatu sehingga terbentuk menjadi manusia.
            Ah...... sungguh benar-benar saat yang paling bermakna saat dimana kita merenungkan pertanyaan “Siapakah saya?” Marilah merenung dan bercermin dari manakah kemanusiawian saya yang sekarang ini. Kita adalah manusia yang diciptakan dengan penuh misteri yang tak terselami. Manusia yang sedari awalnya adalah benih hidup yang teramat kecil yang mengalami prosesnya secara pelan-pelan dalam waktu yang panjang dan lama. Tidak ada yang buru-buru, tidak ada yang saling mendahulukan dan semua berproses seturut karya penciptaan sampai manusia itu terbentuk secitra dengan manusia awalnya. Dalamnya kita menyadari bahwa rahim yang dibungkus oleh air ketuban dalam ruang gelap-gulita memproses karya penciptaan ini.
            Ah...... sungguh sebuah yang sarat makna, sarat pertanyaan untuk rasa ingin tahu. Semua pertanyaan-pertanyaan itu dilakukan oleh satu pertanyaan “mengapa terjadi demikian?” Coba tinggalkan pemikiran namun masuklah dalam keheningan dan kegelapan karena semuanya juga terjadi dalam keheningan dan kegelapan. Pada mulanya semua gelap-gulita dan Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air. Air sumber penghantar daya hidup yang sangat penting. Airlah yang mengalir dalam tubuh manusia, airlah yang member daya kesehatan pada manusia, airlah media pertemuan benih sperma dan sel telur bersatu dan dalam air manusia dibentuk baik adanya.
            Banyak hal dalam hidup kita ini bermakna. Banyak hal yang waktu pun kecil dan sederhana member makna yang teramat besar pada hidup kita. Manusia memiliki riwayat hidup yang sungguh sangat rumit untuk dimengerti oleh otak yang kecil ini dan pasti tidak sanggup. Namun ketika jiwa kita melihatnya dalam kesadaran penuh dengan hati dan jiwa yang tenang betapa manusia semuanya adalah makhluk yang sangat indah dan bermakna dihadapan Allah.
            Semua tercipta dalam proses kelahiran namun manusia punya satu hal yang tidak dimiliki makhluk lainnya yakni pengetahuan yang baik dan yang jahat. Demikianlah Budi dari manusia hadir bukan dalam rupa daging atau tulang namun ada dalam diri kemanusiaan kita. Pikiran untuk mengerti dan nmemahami semua yang dilihat dan terjadi. Perasaan sakit, enak, sedih, gembira, dan banyak perasaan lainnya hadir dalam kemanusiaan kita. Hewan juga bisa membedakan yang baik dan jahat. Namun dalam hal ini bukan hal harafiah kemanusiaan di dalam diri manusia. Namun pengetahuan yang baik dan yang jahat dikatakan dalam hal ini tentang hal keilahian dan hal Adikodrati. Pengetahuan bukan tentang kemanusiaan semata namun pengetahuan tentang kailahian manusia sebagai makhluk yang dilahirkan ke dunia ini mengalami proses hidup tumbuh dan berkembang namun manusia itu tahu mana yang baik dan mana yang jahat yang mana manusia diberi pemikiran untuk mengetahui dirinya dan manusia mengetahui yang baik akan dirinya dan akan yang jahat akan merusak kemanusiannya.
            Pengetahuan yang baik dan yang jahat mau mengarahkan kita pada kesadaran tertinggi akan diri kemanusiawian kita dan dalam kesadaran ini kita tahu yang baik dan jahat yang dalamnya kita tahu mengarahkan jiwa kita kembali kepada ciptaan awal yang adalah baik adanya dan pengetahuan yang jahat adalah kesadaran akan kefanaan kita. Dalam hal ini bukan tindakan bukan tindakan atau perlakuan jahat namun hubungan timbale balik antara yang baik dan yang jahat. Bahwa Hidup yang kita terima berasal dari Adam dan Hawa yang membawanya. Hidup awali itu baik adanya dan kita disadarkan akan pengetahuan yang baik untuk kembali kepada kesempurnaan hidup awali itu atau kita tidak mengalami keilahian itu selamanya karena Hidup yang ada dalam  diri kita tidak kita pelihara dan arahkan kepada kesempurnaan Ilahi yang tertinggi yang merupakan eksistensi Hidup awali yang kita terima. Demikianlah manusia menjadi satu-satunya Makhluk yang mengalami kekhususan ini namun kita harus menyadari bahwa ini terjadi karena manusia Adam dan Hawa melanggar dan tidak sekata dengan Allah yakni mereka melanggar larangan Allah untuk memakan buah terlarang itu karena buah itu membawa kita kepada kematian.
            Kematian yang memiliki makna yang lebih tinggi bukan mati hanya karena tidak bergerak dan hidup.
            Demikianlah manusia dicipta baik adanya dan kita dalam kesadaran tertinggi mengetahui bahwa kita akan mati dan kita harus mengembalikan Hidup yang kita terima yang diciptakan baik adanya, baik pula kembali kepada awalnya yakni keilahian/kesempurnaan Agung.

Rahib Christian Amore, 2014

REENUNGAN: 2014, DUA SISI YANG BERBEDA



Dua sisi yang berbeda……

Sebagai ciptaan awali, Adam menjadi manusia yang secitra dengan Allah karena Hidup yang adalah Citra Utama dari Allah diberikan pada Adam. Cinta inilah yang menjadikan kita adalah bagian dari Allah. Citra Hidup dari Allah pada Adam menjadikan Adam sebagai ciptaan Mulia yang memiliki banyak keutamaan dari ciptaan lainnya karena bagian terkecil sekalipun itu yang diberikan Allah pada Adam berupa Nafas Hidup itu merupakan bagian yang benar-benar penuh keutamaan karena sampai saat ini Citra Hidup berproses dan hadir tanpa henti dan tak terselami oleh ciptaan itu sendiri. Dari itulah disebut Misteri, karena sampai saat ini pun manusia sepintar dan sebijaksana apapun serta sekudus apapun tidak dapat menyatakan bahwa dia dapat menciptakan Hidup atau membuat kehidupan pada benda fana yang tidak memiliki dasar hidup.
Dua hal yang sangat berbeda namun memiliki intensitas yang sama antara Adam dan Hawa. Adam sebagai ciptaan awali mengalami proses cipta hidup baru dari bagian tubuhnya namun saat dia tertidur lelap, bagian tubuh Adam diambil dan menjadi manusia Hawa. Bukan dalam keadaan sadar Adam mengalami proses ini dan yang bekerja adalah Allah sendiri. Demikianlah bagian tubuh Adam menjadi satu bentuk manusia yang baru dan Hidup hadir padanya dan berbeda secitra sebagai ciptaan dan manusia. Hanya, Hawa tidak diberi lagi Nafas Hidup namun Hawa hidup dan sama dengan Adam yang hidup. Dua hal dan sisi yang berbeda namun intense citra Hidup sma-sama ada di dalamnya. Namun manusia selanjutnya lahir dari rahim dan bukan diambil dari bagian tubuh dan bukan dari bagian tibuh laki-laki. Apa yang terjadi dengan manusia selanjutnya? Mengapa harus lahir dari rahim dan bukan tercipta secara agung seperti Hawa? Dosa awal yang mana Adam dan Hawa memakan buah pengetahuan yang Baik dan yang Jahat membuat Adam dan Hawa “mati”. Mati dalam hal ini berubah dan terlepas dari citra keilahiannya. Demikianlah mereka mati dan Roh Ilahi Allah yang adalah Hidup diambil daripadanya dan mereka harus mengalami penderitaan. Inilah kematian yang dimaksud. Bahwa mereka mati dari kemuliaan kemanusian Ilahi mereka, sehingga mereka malu bahwa mereka hanya ciptaan yang fana dan benda yang rendah dari ciptaan semata. Nilai Hidup ilahi diambil dari pada mereka dan yang tinggal hanya hidup dengan kemanusiaan fana mereka semata.
Demikianlah manusia selanjutnya lahir dari rahim seorang perempuan yakni Hawa yang dari padanya ia mengawali makan buah pengetahuan akan yang baik dan yang jahat dari rahimnya ia harus melahirkan dan membungkus ciptaan dalam rahimnya selama lama waktu namun tetap, benih hidup selalu berasal dari pria yakni Adam. Demikianlah karya ciptaan tidak hilang dan musnah. Adam dan Hawa hanya mati dari Manusia Ilahri yakni Ciptaan ke-Allahan namun tinggal sebagai ciptaan fana dari ciptaan itu sendiri.
Dan inilah yang mengingatkan kita bahwa kamanusiaan kita hanya ciptaan fana namun Hidup itu tinggal. Maka Citra Allah dan Roh-Nya masih tinggal pada kita namun Hidup itu sudah dibungkus dan tinggal di dalam tubuh fana dan lemah.
Kita harus menyadari bahwa manusia memiliki dua waktu dan saat dimana dia bersehadap langsung dengan Allah yakni saat di dalam rahim dan saat ia kembali kepada Penciptanya yakni Allah

Rahib Christian Amore, 2014

RENUNGAN: 2014, SIAPAKAH AKU?



Siapakah Aku?
Dari manakah Aku?
Mengapa aku diciptakan?
Siapakah pencipta aku?
Masih banyak pertanyaan yang dapat kita urutkan untuk mengungkapkan rasa ingin tahu kita akan segala pertanyaan yang muncul akan eksistensi manusia dan diri kita. Pertanyaan yang sangat sederhana dan simpel “ Siapakah aku ini?” Demikianlah pertanyaan ini muncul pada setiap diri manusia yang hidup. Namun untuk menjawab pertanyaan ini perlu banyak hal kita ketahui. Para filsuf dalam kata-katanya pun hanya mampu membuat paparan berupa gambaran. Benar-benar suatu yang kompleks dan padat akan sarat makna eksistensi diri manusia. Namun demikianpun pertanyaan ini adalah tangga awal dari Via Misterio Contemplatio untuk sampai kepada Via Prima dan masuk kepada kedalaman Vita Prima.
Melihat Bayang-bayang Adam……
            Adam diciptakan dan ia dihembusi oleh Nafas Hidup dan dari pada bagian tubuhnya diambil dan diciptakan manusia pendamping yakni Hawa. Adam dicipta dan Hawa diambil dari Adam yang adalah ciptaan. Betapa terberkatilah rahim semua wanita yang dalamnya Allah mengulangi karya penciptaan manusia yang teramat agung itu. Namun mengapa bukan laki-laki yang harus meneruskan karya cipta? Padahal Adam menerima Daya Cipta/ Roh pencipta dan Hidup. Adam adalah awal dari manusia. Dan dari sebuah ciptaan tercipta ciptaan baru yang dari padanya malah sumber ciptaan-ciptaan baru. Dalam hal ini kita mau melihat lebih dalam intensitas dari ciptaan awali manusia yakni:
1.      Bahwa kita adalah ciptaan yang tercipta dari ciptaan yang diambil dari sebuah ciptaan yang tercipta dari ciptaan alam semesta yang merupakan ciptaan dari yang telah ada.
Kita bukan dewa atau malaikat
Kita adalah ciptaan dari sebuah citra kefanaan juga
Sedangkan Allah adalah Ada dari ketiadaan
2.      Bahwa Hidup yang kita terima tidak sama hakekatnya dengan Hidup yang diterima Adam.
Manusia tercipta dari hubungan antara pria dan wanita bukan seperti Adam yang diciptakan awali dan dibentuk dengan Karya Ilahi.
3.      Manusia adalah gambaran dan tanda bahwa penciptaan awali dari Hidup itu hadir dan berlangsung sampai saat ini.
Hadir dalam karya kelahiran manusia walaupun tak sama dengan ciptaan awali. Bahwa manusia dikandung dan bukan dijadikan. Terjadi konsepsi dan hubungan fana antara pria dan wanita yang membuahkan sebuah kandungan yang adalah manusia baru selayaknya Adam dan selayaknya Hawa serupa dengan gambaran mereka. Tak ada yang kurang dan kesamaan bentuk terjadi namun berbeda proses perwujudannya.
4.      Kehidupan di dunia ini hanya kesempatan yang diberikan kepada kita untuk mengembalikan diri kita kepada ciptaan awal lewat jalan kesempurnaan yakni Via Misterio Contemplatio. Inilah menjadi kisah tersembunyi di balik penciptaan dan jatuhnya manusia ke dalam dosa. Bagaimana manusia kembali mulia dan ilahi dalam Hidup yang masih bersinar terang dalam dirinya. Demikianlah Manusia itu diusir dari Vita Prima di hadapan Allah.
Demikianlah kita mau melihat lebih dalam arti dari penciptaan dan hakekat eksistensi manusia sedari awal sampai kepada diri kita dan semakin mengenal pribadi kita secara utuh dan saat itulah kita melihat diri kita dengan sempurna sebagai ciptaan mulia seperti Adam sedari awal.

Rahib Christian Amore, 2014